Minggu, 24 Februari 2008

Remaja dan Perilaku Konsumtif


Remaja dan Perilaku Konsumtif

Hurlock (1991) menyatakan salah satu ciri masa adalah masa yang tidak realistik. Pada masa ini, umumnya remaja memandang kehidupan sesuai dengan sudut pandangnya sendiri, yang mana pandangannya itu belum tentu sesuai dengan pandangan orang lain dan juga dengan kenyataan. Selain itu, bagaimana remaja memandang segala sesuatunya bergantung pada emosinya sehingga menentukan pandangannya terhadap suatu objek psikologis. Sulitnya, emosi remaja umumnya belum stabil. Secara psikososial terlihat perkembangan remaja pun memandang dan menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan peran mereka sebagai konsumen.
Seiring perkembangan biologis, psikologis, sosial ekonomi tersebut, remaja memasuki tahap dimana sudah lebih bijaksana dan sudah lebih mampu membuat keputusan sendiri (Steinberg, 1996). Hal ini meningkatkan kemandirian remaja, termasuk juga posisinya sebagai konsumen. Remaja memiliki pilihan mandiri mengenai apa yang hendak dilakukan dengan uangnya dan menentukan sendiri produk apa yang ingin ia beli. Namun di lain pihak, remaja sebagai konsumen memiliki karakteristik mudah terpengaruh, mudah terbujuk iklan, tidak berpikir hemat, kurang realistis
Dalam kaitannya dengan perilaku remaja sebagai konsumen, walaupun sebagian besar tidak memiliki penghasilan tetap, tetapi ternyata mereka memiliki pengeluaran yang cukup besar. Sebagian besar remaja belum memiliki pekerjaan tetap karena masih sekolah. Namun, para pemasar tahu bahwa sebenarnya pendapatan mereka tidak terbatas, dalam arti bisa meminta uang kapan saja pada orang tuanya (Loudon & Bitta, 1984).
Kaitannya anak-anak dan iklan di media televisi, tulisan ini menyoroti dua hal. Pertama, anak yang menjadi target sebagai konsumen atas iklan, produknya untuk dikonsumsi anak-anak. Kedua, iklan yang menggunakan anak-anak sedangkan barang dan jasa bukan konsumsinya anak-anak. Anak sebagai sasaran yang akan dijadikan konsumen, biasanya iklannya pun juga menggunakan anak sebagai media untuk iklan. Artinya anak sebagai bintang iklan diharapkan akan mudah mempengaruhi pemirsa atau ditiru oleh anak-anak seusianya yang melihat di layar televisi. Bahkan oleh anak-anak yang menginjak usia remaja, ada image ketinggalan jaman, tidak modis, tidak fungky dan kurang gaul jika tidak mengkonsumsi barang yang telah diiklankan.
Kecenderungan tersebut berakibat hingga bagaimana mengemas iklan menjadi sedemikian menarik dan membuat masyarakat terpengaruh dan pada akhirnya mencoba membeli dan mengkonsumsi serta memakai terus produk tersebut. Sedemikian ‘pintarnya’ pembuat iklan dalam mengemas produk ini kadangkala terlalu berlebihan dalam menonjolkan produknya. Penonjolan tentang keunggulan dan kelebihannya, kalaupun makanan atau minuman tentang kandungan yang dimiliki, sementara dampak atau akibat negatifnya tidak diberitahukan kepada konsumen.

Tidak ada komentar: