Sabtu, 19 Januari 2008

Periklanan




Semiotika Iklan Sosial (bagian I)

oleh: Sumbo Tinarbuko

PENDAHULUAN

Periklanan adalah fenomena bisnis modern. Tidak ada perusahaan yang ingin maju dan memenangkan kompetisi bisnis tanpa mengandalkan iklan. Demikian pentingnya peran iklan dalam bisnis modern sehingga salah satu bonafiditas perusahaan terletak pada berapa besar dana yang dialokasikan untuk iklan tersebut. Di samping itu, iklan meruPeriklanan selain merupakan kegiatan pemasaran juga merupakan kegiatan komunikasi. Kegiatan pemasaran meliputi strategi pemasaran, yakni logika pemasaran yang dipakai unit bisnis untuk mencapai tujuan pemasaran (Kotler, 1991:416).

Menurut Liliweri (1991:20), kegiatan komunikasi adalah penciptaan interaksi perorangan dengan mengunakan tanda-tanda yang tegas. Komunikasi juga berarti pembagian unsur-unsur perilaku, atau cara hidup dengan eksistensi seperangkat ketentuan dan pemakaian tanda-tanda. Dari segi komunikasi, rekayasa unsur pesan sangat tergantung dari siapa khalayak sasaran yang dituju, dan melalui media apa sajakah iklan tersebut sebaiknya disampaikan. Karena itu, untuk membuat komunikasi menjadi efektif, harus dipahami betul siapa khalayak sasarannya, secara kuantitatif maupun kualitatif.

Sementara itu, periklanan menurut Kamus Istilah Periklanan Indonesia adalah pesan yang dibayar dan disampaikan melalui sarana media, antara lain: pers, radio, televisi, bioskop, yang bertujuan membujuk konsumen untuk melakukan tindak membeli atau mengubah perilakunya (Nuradi, 1996:4).pakan jendela kamar dari sebuah perusahaan. KeIklan pada dasarnya adalah produk kebudayaan massa. Produk kebudayaan masyarakat industri yang ditandai oleh produksi dan konsumsi massal. Kepraktisan dan pemuasan jangka pendek antara lain merupakan nilai-nilai kebudayaan massa (Jefkins, 1996:27). Artinya, massa dipandang tidak lebih sebagai konsumen. Hubungan antara produsen dan konsumen adalah hubungan komersial semata saja. Interaksinya, tidak ada fungsi lain selain memanipulasi kesadaran, selera, dan perilaku konsumen.beradaannya menghubungkan perusahaan dengan masyarakat. Khususnya konsumen.Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Di kalangan remaja rasa ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar sangatlah besar, padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, sehingga muncullah perilaku yang konsumtif tersebut.

Pada mulanya belanja hanya merupakan suatu konsep untuk menunjukkan suatu sikap untuk mendapatkan barang yang menjadi keperluan untuk sehari-harinya dengan jalan menukarkan sejumlah uang sebagai pengganti barang tersebut. Pada saat ini konsep belanja itu sendiri telah berkembang sebagai sebuah cerminan gaya hidup dan rekreasi di kalangan masyarakat. Belanja adalah suatu gaya hidup tersendiri, dimana bahkan telah menjadi suatu kegemaran bagi sejumlah orang.

Belanja menjadi alat pemuas keinginan mereka akan barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, akan tetapi karena pengaruh trend atau mode yang tengah berlaku, maka mereka merasa akan suatu keharusan untuk membeli barang-barang tersebut. Perilaku berlebihan inilah yang disebut dengan perilaku konsumtif (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).Ironisnya, gaya hidup yang konsumeristis ini semakin besar tuntutannya, sehingga apa yang sudah ada akan tidak mencukupi. Pola hidup yang konsumtif juga menampakkan kesenjangan yang semakin besar pada masyarakat, sehingga kalangan yang sebenarnya tidak mampu atau tidak memerlukan perilaku konsumtif ini turut mempraktekannya, dan kemudian ia bisa saja melakukan segala upaya dalam memenuhi keinginannya, sehingga bisa menyebabkan terjadinya hal-hal yang devian (Kusmin, dalam Waspada, Kamis, 31 Juli 1997).

Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja Tambunan, dalam http://www.e-psikologi.com/remaja/191101.htm).

Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.


Para remaja, apalagi remaja putri, biasanya sangat memperhatikan penampilan. Dan untuk tampilan yang 'oke' para remaja rela melakukan pelbagai upaya. Dari berbusana trendi, mengenakan aksesoris unik dan eksentrik hingga berkosmetik. ]

Berkosmetik? Memang, di jaman ibu atau nenek kita dahulu remaja umumnya belum mengenal kosmetik. Paling-paling bedak tabur. Tapi, seiring perkembangan zaman yang dibarengi dengan derasnya arus informasi, baik dari dalam maupun luar negeri, penggunaan kosmetik di kalangan remaja meningkat tajam.

Hal itu juga diakui oleh dr Sjarif M. Wasitaatmadja SpKK, ketua Subbagian Kosmetik Medik Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM. ''Kebanyakan remaja sekarang mengikuti tren (berkosmetik, red) dari luar negeri yang informasinya bisa mereka peroleh melalui televisi, internet, bahkan majalah-majalah luar negeri yang saat ini banyak beredar di sini,'' katanya dalam simposium sehari bertema Pengobatan Mutakhir Dermatologi Pada Anak dan Remaja, di Jakarta belum lama ini.

Bujuk rayu iklan lewat tampilan bintang-bintangnya yang cantik dan terkenal juga sangat menggoda remaja untuk menjajal produk kosmetik yang ditawarkan. Alhasil, banyak remaja yang tadinya tidak menggunakan kosmetik menjadi tergiur dan mencoba-coba berdandan seperti bintang iklan kosmetik itu. ''Masalahnya adalah karena pengetahuan tentang kesehatan pada remaja, yang berada dalam tingkat pendidikan awal, masih sangat minimal,'' kata Sjarif.

Hal senada juga diakui oleh dr Hermia Moegni SpKK, spesialis kulit dan kelamin dari RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Tapi menurutnya, remaja pun sah-sah saja bila ingin memakai kosmetik. Tapi ingat, kosmetik yang dipakai hendaknya benar-benar aman. Sehingga selain menjadi cantik, kulit si remaja itu juga tetap terjaga kesehatannya.
Nah, agar para remaja bisa tampil cantik sekaligus sehat Hermia memberikan beberapa tips yang bermanfaat berikut ini:

* Tentukan lebih dulu jenis kulit. Untuk diketahui, ada empat jenis kulit yakni normal, berminyak, kering, dan sensitif. Tapi apapun jenisnya, kulit para remaja umumnya cenderung berminyak, dan akan menjadi lebih kering seiring bertambahnya usia. Mengapa kulit remaja cenderung berminyak? ''Hal ini terutama karena perubahan hormonal,'' terang Hermia.

Untuk itu, Hermia menyarankan para remaja untuk memilih kosmetika yang banyak mengandung air, bukan lemak.
* Pilih jenis pembersih yang lembut, tidak atau hanya sedikit saja mengandung alkohol dan deterjen.
* Perhatikan daftar isi pada kemasan kosmetik. Makin sedikit bahan makin baik.

* Lebih aman memilih produk hipoalergi dan tanpa pewangi. Asal tahu saja, bahan-bahan atau zat kimia yang terkandung dalam produk kosmetik tertentu seperti cat rambut, kuteks (pewarna kuku), deodoran dengan parfum umumnya mengandung alergen (zat pencetus alergi). Zat ini bisa menimbulkan alergi pada kulit remaja yang sensitif.

* Gunakan riasan kosmetik setipis mungkin. Hindari pemakaian alas bedak sebab bisa menimbulkan efek komedonal yang tinggi. Dalam menggunakan bedak sebaiknya gunakan bedak tabur, bukan bedak padat.

* Jangan menyimpan produk kosmetik terlalu lama karena biasanya produk kosmetik memiliki usia kadaluwarsa yang singkat. Apalagi produk-produk kosmetik tanpa bahan pengawet. Paling-paling hanya bertahan 10 sampai 14 hari. Penyimpanannya pun tidak boleh di sembarang tempat. Harus di tempat yang sejuk dan kering.

* Bila kulit tergolong sensitif, lakukan tes kulit sebelum membeli produk kosmetik.
* Terakhir, hentikan segera pemakaian kosmetik bila timbul reaksi yang tak diinginkan misalnya iritasi. mg02 ()


Iklan di TV: Madu dan Racun

Maret 19, 2007 oleh osolihin

STUDIA Edisi 051/Tahun 2/2001

Bicara soal tv kita nggak bakalan lepas dari pembahasan soal film dan acara lainnya. Semakin heboh dan keren acara yang ditayangkan televisi, kian ramai pula penontonnya. Dan itu berarti tambang uang bagi pengusaha untuk menarik pembeli lewat iklan. Walhasil, iklan merupakan masalah tersendiri bagi pemirsa televisi.

Iklan kini menjadi produk khusus dan dikemas dengan amat apik. Tujuannya sudah jelas, yakni untuk menggoda dan merayu calon pembeli terhadap produk yang ditawarkannya. Selain iklan yang dikemas secara khusus dalam durasi hitungan detik, malah iklan pun acapkali muncul dalam sebuah film, atau malah film itu sendiri yang bisa dijadikan ajang pasang iklan, tepatnya menciptakan tren. Mau tahu faktanya? Di Amrik sono, sebagian kalangan pernah merasa cemas ketika film seri Ally McBeal sukses, digemari para pemirsa televisi. Penampilan Calista Flockhart yang memang chic sebagai tokoh Ally McBeal dianggap terlalu kurus sampai seperti penderita anoreksia.

Kenapa iklan di televisi bisa begitu besar pengaruhnya? Sebab televisi adalah media pandang-dengar alias audio visual. Besar banget efeknya. Kalo kamu cuma liat iklan di koran atawa majalah, pengaruhnya nggak begitu kuat. Atau ketika denger iklan dari radio, itu juga nggak begitu heboh ketimbang iklan di televisi. Nah, ngeliat efeknya yang emang kuat itu, iklan kemudian disajikan dengan kemasan yang oke punya. Malah ide-ide yang diciptakan para copywriter dan visualiser iklan bener-bener bisa merangsang imajinasi kita. Berikutnya, kalo kita sampe tergoda untuk membeli produknya, berarti iklan tersebut emang sukses.

Masalahnya sekarang, nggak semua iklan itu mendidik. Malah banyak juga iklan yang tulalit alias nggak nyambung dengan produk yang ditawarkan. Misalkan, kita nggak habis pikir dengan iklan mobil atawa sepeda motor yang selalu menampilkan sisi “bahasa tubuh” wanita. Walhasil, porsi iklan yang mengeksploitasi wanita semakin membesar. Alasannya, konon kabarnya pemirsa menikmatinya dengan senang hati. Dengan begitu, maka wanita emang menjadi “madu” investasi alias tambang uang bagi sebuah industri kapitalisme.

Itu emang data tiga tahun yang lalu. Namun demikian, belanja iklan dari ke tahun berkisar di angka itu. Tentu saja, bila kita melihat secara hitung-hitungan kasar aja, bisa menebak jatah pemasukan televisi lewat iklan emang tinggi, termasuk untuk anggaran tahun ini. Logikanya, media massa seperti televisi ini, memang hidup dari iklan. Itu sebabnya, stasiun televisi berlomba membuat berbagai program acara unggulan yang bakal menyedot perhatian pemirsa. Dan itu berarti mengeruk sebanyak-banyaknya kue iklan. Nggak peduli lagi apakah tayangan klip iklan itu kemudian bakal menjadi racun atau madu bagi pemirsanya. Faktor ini nggak terlalu menjadi soal bagi pengusaha stasiun tv, yang penting fulus, Brur, fulus.

Citra yang menyesatkan

Di tengah gencarnya propaganda gaya hidup yang membungkus perdagangan kapitalisme mutakhir, remaja juga terpaku perhatiannya kesana: rambut yang lurus seperti yang ditampilkan dalam iklan-iklan shampoo; kulit yang putih seperti disarankan iklan segala cream pemutih kulit; ingin perkasa seperti yang tawarkan iklan-iklan minuman berenergi, gaya hidup santai dan penampilan modis, bahkan dalam dunia profesional seperti dalam Ally McBeal; dan seterusnya.

Bila pengusaha iklan dan dunia industri televisi menganggap iklan sebagai madu, tapi tidak bagi pemirsa, iklan bisa berubah menjadi racun. Terutama tayangan iklan yang memberikan pengaruh yang sangat negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian pemirsanya, khususnya anak-anak dan remaja. Akhirnya, nggak sedikit yang kemudian menjadi korban iklan.

Parahnya lagi, pengelola televisi berani menayangkan iklan yang bermasalah di saat prime time (waktu utama) yakni antara jam tujuh malam sampai jam sembilan malam. Dan itu berarti semua lapisan pemirsa menyaksikannya tanpa kecuali, termasuk anak-anak. Sebab Iklan yang menyelingi acara televisi itu kacau bin parah banget. Walhasil, saat kita menonton televisi sering diselingi dengan iklan-iklan obat kuat, minuman berenergi, dan maaf, iklan pakaian dalam dst. Dan, seperti melengkapi kerusakannya, iklan tersebut dikemas dengan amat berlebihan.

Brur, kayaknya dalam iklan juga telah terjadi penekanan terhadap pentingnya kaum perempuan untuk selalu tampil memikat dengan mempertegas sikap kewanitaannya secara biologis. Seperti memiliki waktu menstruasi (iklan-iklan pembalut wanita), memiliki rambut lurus yang panjang (iklan shampo). Selain itu, iklan televisi juga memberikan pencitraan maskulin, yakni mempertontonkan kejantanan, otot laki-laki, ketangkasan, keberanian menantang bahaya, keuletan, keteguhan hati, bagian-bagian tertentu dari kekuatan daya tarik laki-laki sebagai bagian dari citra maskulin.

Iklan model begitu sudah banyak banget. Berdesakan mempengaruhi pikiran kita. Sekaligus iklan-iklan yang ada ini menjungkir-balikkan aturan yang telah dibuat Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Lembaga ini telah menyusun dan menyepakati berlakunya Tata Krama Periklanan Indonesia. Misalnya, pada Bab IV, “Hubungan dengan Konsumen” pasal 7 disebutkan: setiap iklan harus menjunjung tinggi kesopanan, kejujuran, dan kebenaran yang disampaikan dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang benar.

Lebih jelasnya, pasal tersebut yang menekankan pada kesopanan, kejujuran, dan kebenaran sebagai berikut: a) kesopanan: dalam hal ini iklan tidak boleh mengandung pernyataan-pernyataan atau ilustrasi yang merusak tata sopan santun masyarakat, tidak boleh menimbulkan rasa takut, jijik dan sebagainya; b) kejujuran: dalam hal ini tidak boleh mensalah-gunakan atau memanipulir batas-batas kepercayaan, kekurangan pengetahuan dan pengalaman konsumen; c). kebenaran: dalam hal ini iklan tidak boleh memperdayakan konsumen melalui penyajian yang dapat disalah-tafsirkan yang berarti menyesatkan konsumen.

Khusus pasal 10 Tata Krama Periklanan Indonesia ini tentang anak-anak dan remaja. Disebutkan, iklan-iklan yang ditujukan kepada kelompok anak-anak dan kaum remaja hendaknya: a) tidak mengandung pernyataan serta ilustrasi yang dapat merusak pertumbuhan rohani serta jasmani mereka; b) tidak memberikan harapan yang berlebihan kepada mereka yang menderita fisik maupun mental.

Namun apa yang terjadi? Pasar anak-anak dan remaja ini adalah pasar gemuk alias potensial. Makanya, iklan untuk segmen ini bejibun banget. Iklan permen, chiki, es krim, minuman ringan, coklat, kosmetik, pasta gigi, sampai pakaian selalu hadir dan menggoda remaja dan anak-anak untuk komsumtif. Iklan televisi menjadi sarana untuk menikmati mimpi-mimpi indahnya. Walhasil, semua mimpi ditawarkan televisi lewat iklan, film, dan acara-acara lainnya. Ibaratnya, televisi sudah menjadi ortu kedua bagi remaja dan anak-anak.

Tidak mengherankan bila kehangatan keluarga yang dulu bisa berlangsung di ruang keluarga, kini sudah digantikan televisi. Dan di Indonesia, televisi sudah menjadi bagian dari ruang tamu kita semua, Brur. Maka, pertama-tama bila kita menatap furniture yang ada di rumah, maka yang tersentuh pertama kali adalah di mana akan menata televisi. Karena itu, kini ada guyonan. Ingatan kehidupan hanya ada dua. Pertama, rumah tempat tinggal kita, dan kedua, televisi kita. Karena itu, televisi menjadi penting bagi dunia anak-anak itu sendiri. Mengingat televisi tidak bisa dimatikan, maka televisi adalah ensiklopedi baru bagi anak-anak masa kini. Televisi merupakan jendela untuk masyarakat melakukan urbanisasi. Apalagi dalam suatu masyarakat yang bergerak dari budaya pracetak, cetak, lalu radio, dan televisi. Tahapan gerakan budaya itu tidak dalam satu tahap linear, tetapi melompat-lompat luar biasa. Waduh, heboh banget, ya?

Wina Rini Wilman, Phd, pengajar psikologi perkembangan anak dan psikologi keluarga di Universitas Indonesia mengatakan, bahwa bagi remaja, teman-teman di dalam kelompok (peer group) memang sangat menentukan. Mereka inilah yang berpengaruh pada para remaja ini, yang umumnya sedang belajar untuk independen dari orangtuanya. Proses pencarian identitas diri berikut usaha untuk independen itu menjadikan mereka rentan terhadap berbagai pengaruh lingkungan, termasuk iklan yang menggambarkan bahwa cantik itu penting dalam pergaulan, atau pula digambarkannya citra kecantikan dengan ukuran tertentu seperti kulit putih, rambut lurus, dan semacamnya. Pengaruh iklan ini bukan terbatas pada iklan-iklan dari produk yang memang dikhususkan bagi remaja, namun juga produk-produk lain, yang meski bukan produk untuk remaja tetapi menggunakan model remaja. Propaganda untuk hal-hal seperti ini semakin gencar sekarang, berbeda taruhlah dibanding sekitar 15-20 tahun lalu (Kompas, 18 Februari 2001)

Pola hidup sederhana

Brur, iklan televisi telah menawarkan segala mimpi dan menciptakan masyarakat konsumtif. Gimana nggak, kita dibuat sulit untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebab, masyarakat kapitalistik sengaja menciptakan kerancuan ini. Mereka mencari cara bagaimana mengubah imej keinginan menjadi kebutuhan. Padahal itu adalah dua sisi yang berbeda. Keinginan tidak sama dengan kebutuhan. Sebab, keinginan adalah harapan yang tidak mesti untuk dipenuhi. Atau dengan kata lain, keinginan tidak bakal menyebabkan kita menderita bila tidak terpenuhi. Tapi kebutuhan, jelas bisa menyebabkan pengaruh besar kepada kita. Dengan kata lain, kebutuhan mutlak untuk dipenuhi. Utamanya kebutuhan primer.

Ketika ada iklan yang menawarkan baju bermerek dan modelnya oke punya, tentu aja urat-urat keinginan kamu ditarik-tarik untuk segera membelinya. Padahal kamu sudah punya baju merek lain yang nggak kalah kualitasnya. Namun karena tergoda rayuannya, akhirnya kamu beli juga baju itu. Itu namanya, kamu nggak bisa membedakan antara keinginan dengan kebutuhan.

Kita udah sering liat iklan produk televisi dengan beragam kualitas dan spesifikasi. Padahal, intinya sama, yakni televisi. Tapi masih juga dihadirkan dalam bentuk televisi flat (layar datar), kualitas tata suara, ukuran, kejernihan gambar, dan lain sebagainya. Pokoknya merangsang pemirsa untuk tanpa sadar membelinya. Produk lemari es aja begitu bervariasi. Nggak cukup menggoda pemirsa dengan model satu pintu, dibuatlah produk dua pintu dengan iklannya yang heboh. Masih belum cukup menarik pembeli? Dikeluarkan produk teranyar dengan ukuran yang jumbo menyamai ukuran kamar tidur. Iklannya pun sudah pasti dibuat sedramatis mungkin.

Iklan lain pun berjubel mendatangi kita tanpa bisa ditolak lagi. Lama-lama kita jadi terbius untuk bergaya hidup konsumtif. Karena memang kita udah dikondisikan dengan budaya tersebut. Jadi, batas antara keinginan dengan kebutuhan menjadi kabur alias sulit dibedakan. Karuan aja, ini menyimpan masalah besar, Brur. Pada level tertentu kita menjadi orang yang gandrung dengan iklan dan akhirnya menjadi pasar empuk untuk produk-produk perdagangan kapitalistik. Pola hidup sederhana merupakan barang langka bagi keluarga muslim saat ini. Yang ada dalam benak masyarakat kita sekarang adalah bagaimana meraih sebanyak-banyaknya kenikmatan duniawi.


ANALISIS EFEK IKLAN TELEVISI PADA PENGETAHUAN, SIKAP, NIAT BELI DAN
PEMBELIAN OLEH KONSUMEN ANAK PADA PRODUK MAKANAN RINGAN DI SURABAYA
Anna Triwijayati, Hendro Susanto
ABSTRAK: Bagi sebagian besar perusahaan, iklan menjadi suatu pilihan yang menarik,
dikarenakan iklan sebagai sumber informasi iklan juga dipandang sebagai media hiburan dan
media komunikasi yang efektif jika ditayangkan di televisi. Semenjak munculnya televisi swasta,
iklan televisi menjadi primadona media beriklan. Televisi menggunakan warna, suara, gerakan dan
musik yang tidak dimiliki oleh media iklan yang lain. Televisi adalah media yang mampu
menjangkau wilayah luas, dapat dimanfaatkan oleh semua pengiklan untuk tes pemasaran atau
peluncuran suatu produk baru. Saat ini penetrasi iklan masuk ke dalam kehidupan setiap orang,
termasuk anak-anak. Pasar anak-anak penting bagi pengiklan disebabkan daya beli anak-anak
dan orang tua mereka yang begitu besar.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bermaksud untuk memberikan jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan yaitu faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pembelian makanan ringan
oleh anak serta jalur hubungan antar variable manakah yang paling efektif mempengaruhi
pembelian makanan ringan oleh anak? Model penelitian yang digunakan merupakan hasil telaah
dari berbagai model sehingga terbentuk model efek iklan terhadap pengetahuan, sikap,
kepercayaan, niat beli dan perilaku pembelian.
Desain Penelitian yang digunakan adalah desain kausal dengan hipotesis. Teknik penentuan
sample secara non probabilitas dengan menggunakan metode purposive sampling. Responden
adalah Anak berusia 9-12 tahun (kelas 4-6); Pemirsa televisi dan tiga bulan terakhir secara
periodik melakukan keputusan pembelian produk makanan snak anak-anak. Alat analisis yang
digunakan adalah dengan Strucutural Equation Modeling (SEM).
Berdasarkan hasil pengujian dengan program Lisrel 8.30, diketahui bahwa model penelitian
bersifat marginal fit. Hasil Penelitian adalah sebagai berikut: 1). Jenis jajanan yang paling disukai
oleh anak adalah coklat dan biscuit bila dibandingkan dengan jenis jajanan yang lain misalnya
kacang atau krupuk. 2). Jumlah uang saku anak sebagian besar kurang dari Rp. 5000,-. 3). Sikap
anak pada iklan makanan ringan sebagian besar adalah positif. 4). Pengetahuan anak akan
produsen pembuat makanan kecil kurang. 5). Konsumen anak ternyata kurang percaya akan
manfaat makanan ringan bagi tubuh 6). Sikap konsumen anak dan niat beli pada merek makanan
ringan positif. 7). Konsumen anak tidak setiap hari membeli makanan ringan atau snak yang
diiklankan di televisi. 8). Efek iklan kurang efektif mempengaruhi pengetahuan konsumen.
Pengetahuan akan produk kurang efektif mempengaruhi Sikap terhadap merek selain itu Efek iklan
pada niat beli dan pembelian kurang efektif bila melalui pengetahuan dan kepercayaan namun
secara parsial iklan efektif mempengaruhi kepercayaan. Iklan efektif mempengaruhi niat beli dan
pembelian melalui sikap terhadap iklan dan sikap terhadap merek. Sikap terhadap merek dibentuk
oleh sikap terhadap iklan bukan oleh pengetahuan dan kepercayaan. Pembelian berasal dari niat
beli atau bila sudah berniat maka anak-anak akan membeli produk makanan ringan. Hal ini
mempertegas teori bahwa niat beli adalah satu tahap keputusan konsumsi yang paling dekat
dengan pembelian secara nyata.
Kata Kunci: Iklan, Sikap, Pengetahuan

Iklan TV Pengaruhi Pola Konsumsi Anak

Iklan melalui media massa ternyata memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap pola konsumsi anak. Dari berbagai media massa yang ada, tayangn iklan melalui televisi terbukti lebih efektif ketimbang media lain, seperti majalah, koran ataupun brosur. Namun perlu hati-hati, sebab tanyangan iklan bisa berdampak pada perubahan perilaku anak. Karena itu, orangtua disarankan untuk mendampingi anak ketika menonton televisi.

Di kalangan dunia usaha, tentu tidak asing dengan idiom ‘pengusaha yang tidak bersedia beriklan (melalui berbagai cara dan media) akan ditinggalkan konsumen’. Karenanya, banyak pelaku usaha yang kemudian menetapkan iklan sebagai sarana penting bagi distribusi usahanya. Melalui cara ini, mereka juga menjajaki kemungkinan untuk melakukan segmentasi pasar.

Dalam kaitan itu, anak-anak - karena kepolosan dan keluguannya - menjadi sasaran bidik lantaran memiliki potential demand yang sangat menggiurkan bagi pelaku usaha. Dari sisi konsumen, mereka sangat ‘lahap’ terhadap produk-produk industri. Asumsi yang demikian telah menggerakkan para industrialis untuk menggunakan iklan dalam memasarkan produknya.

Namun, seberapa besar pengaruh iklan terhadap pola konsumsi anak? Setidaknya hasil penelitian telah membuktikan pengaruh tersebut. Pengaruh ini ditunjukkan melalui pembelian produk makanan dan minuman kemasan yang sebagian besar informasinya diperoleh anak melalui iklan, angkanya mencapai 87,22 persen. Dari persentase tersebut, 46,67 persen informasi didapat melalui TV. Sedang sisanya, melalui koran / majalah (28,33%), brosur (12,22%), melalui teman (8,33%), dan lainnya (4,45%).

Penelitian ini mengambil 300 responden yang terdiri dari siswa praTK, TK hingga SD. Dari hasil penelitian itu diketahui, 300 anak-anak menggunakan uang sakunya (Rp. 5.900 / hari) untuk membeli makanan dan minuman (105), membeli mainan (56), membeli alat belajar (52), biaya transpor (44) dan lain-lain (43). Mereka yang menggunakan uang sakunya untuk membeli makanan dan minuman, sebagian besar (68,58%) memilih dalam bentuk kemasan, sedang sisanya memilih makanan dan minuman curah. Hal ini menunjukkan bahwa makanan dan minuman dalam bentuk kemasan lebih mempunyai daya tarik daripada dalam bentuk curah.

Mengingat televisi mempunyai pengaruh yang sangat besar pada perilaku anak, maka orangtua sebaiknya lebih selektif dalam memilihkan program untuk mereka. Hal ini diperlukan agar orangtua benar-benar bisa menjadi filter yang baik atas pola perilaku anak.(KR)

Tidak ada komentar: