Kamis, 08 November 2007

Tanganin Bullying dong


Petingnya menangani bullying
Bullying itu sangat menyakitkan bagi si korban. Tidak seorangpun pantas menjadi korban bullying. Setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan dan dihargai secara pantas dan wajar.
Bullying memiliki dampak yang negatif bagi perkembangan karakter anak, baik bagi si korban maupun pelaku.
Berikut ini contoh dampak bullying bagi sang korban :
 Depresi
 Rendahnya kepercayaan diri / minder
 Pemalu dan penyendiri
 Merosotnya prestasi akademik
 Merasa terisolasi dalam pergaulan
 Terpikir atau bahkan mencoba untuk bunuh diri
Di sisi lain, apabila dibiarkan, pelaku bullying akan belajar bahwa tidak ada risiko apapun bagi mereka bila mereka melakukan kekerasan, agresi maupun mengancam anak lain. Ketika dewasa pelaku tsb memiliki potensi lebih besar untuk menjadi preman ataupun pelaku kriminal dan akan membawa masalah dalam pergaulan sosial.










Ciri2 bullying:
Indikasi anak menjadi korban bullying :
- Tidak mau pergi ke sekolah, Takut pada saat pergi maupun pulang sekolah, Menjadi nervous ataupun kurang percaya diri, Menangis sendiri tanpa sebab ataupun pada saat tidur
- Prestasi akademik semakin menurun, Kehilangan keceriaan pada waktu pagi hari sebelum ke sekolah, Pulang sekolah dengan tas maupun buku yg robek/rusak, Barang kepunyaan/uang sering dilaporkan hilang, Meminta uang atau bahkan mencuri uang (utk diserahkan kepada si Pelaku),
- Bersikap agresif pada adik atau saudaranya, Mogok makan, Pulang dengan luka-luka tanpa penjelasan yang memadai.
Indikasi di atas bisa jadi juga merupakan ciri dari masalah lainnya, namun Bullying harus selalu dipertimbangkan sebagai kemungkinan yang harus diwaspadai.



Teror di Lingkungan Sekolah
Bembi (48) seperti terkesima ketika melihat putri bungsunya yang berusia 14 tahun berusaha keluar rumah lewat jendela apartemen. Lebih kaget lagi ketika melihat si anak menyapa hampir semua anak sebaya seakan-akan mereka adalah teman sekolahnya.
Peristiwa yang nyaris merenggut nyawa anaknya itu seperti merupakan puncak dari banyak peristiwa lain yang luput dari perhatiannya sebagai orangtua. Tetapi peristiwa itu menyadarkannya tentang sesuatu yang tidak beres pada putrinya, dan membutuhkan bantuan ahli untuk jalan keluar.
Dari pertemuan dengan psikiater, Bembi baru tahu anaknya mengalami depresi berat. Anak itu menjadi korban bullying (teror berupa pengucilan, pelecehan, pemalakan, intimidasi, ejekan, gosip, fitnah, kekerasan fisik atau mental secara luas) teman sekelas. Bembi terenyak dan merasa bersalah karena tak mampu menengarai pertanda yang dibawa si anak.
”Selama ini semuanya tampak baik-baik saja. Dia sekolah seperti biasa. Les juga jalan dan nilainya lumayan,” lanjutnya. (KOMPAS)

Tidak ada komentar: